89 notes &
Kadang, kita harus menjual mimpi kecil kita agar orang lain dapat membeli mimpi besarnya. Itulah esensi dari berbagi. Dan hal itu lebih indah dari sekadar sebuah mimpi kecil yang terwujud.
89 notes &
Kadang, kita harus menjual mimpi kecil kita agar orang lain dapat membeli mimpi besarnya. Itulah esensi dari berbagi. Dan hal itu lebih indah dari sekadar sebuah mimpi kecil yang terwujud.
0 notes &
Anak laki-laki itu teman satu bangkuku di kelas lima sekolah dasar. Saat itu kami memang diharuskan duduk sebangku dengan lawan jenis, dengan alasan mengurangi keributan. Entah aku yang memilihnya, atau dia yang memilihku. Hmm, atau mungkin sebenarnya kami sama-sama dipilihkan oleh ibu guru untuk duduk bersama. Ah, entahlah.
Tak banyak hal yang bisa kami kenang selama setahun menjadi teman satu bangku. Yang aku ingat hanya kami yang sering dimarah ibu guru karena kebiasaan kami memelintir rambut/poni, dan kami yang ribut karena sering bercanda dengan dua orang teman yang duduk di belakang kami. Ahh, satu lagi yang aku ingat. Dia yang dengan innocent mengajakku bicara disaat teman lain mendiamkanku karena aku bermasalah dengan “genk nero” di sekolah. Sejak saat itu, aku sangat menaruh hormat padanya.
Begitupun dengan saat ini. Semakin bertambah rasa hormatku padanya setelah kami terlibat percakapan kecil di-facebook. Dia tetap sama, membalas seadanya setiap percakapan dengan sesekali bercanda, kali ini dia sisipi dengan sedikit nasehat. Yaa, meski kami berbeda dan tidak dekat, tapi pikirku dia adalah teman yang sangat baik.
Hmm.. Tahukah apa yang aku dapat dari kisah kami ini? Yaa, tak perlu bermacam cara aneh untuk membuat orang lain menghargai keberadaan kita, ternyata hanya dengan terus berperilaku dan bertutur kata yang baik sudah menjadi sangat cukup untuk membuat hati menjadi luluh.
Aaa, senang bisa mengenalmu, teman satu bangku. Semoga ada umur dan rejeki untuk kita bertemu lagi. Sukses terus pak Polisi Militer :)
Respect one another <3
(via isyanadevi)
“Ok, I might be a Tumblr nerd but look what I made :)” — hoppip
2 notes &
Aku melepas hiruk pikuk Ibukota. Untuk mereka yang bertanya mengapa, terkadang ku-elukan masalah kemacetan Jakarta, atau sekedar mengucap kata stres untuk menjawabnya. Pernah mencoba menjawab bahwa sudah tak ada lagi alasan untuk merantau, seketika itu bermacam-macam argumen pun tak dapat dibendung mendengar kalimat bias itu. Lalu tak pernah lagi kupakai jawaban ketiga jika jawaban pertama dan kedua sudah cukup membuat mereka meng-iya-kan, bahkan terdiam.
Yaa, aku memang tak pandai, tak paham ilmu agama sendiri. Bertanya kesana kemari mencari jawaban bagaimana hukumnya jika seorang wanita bepergian jauh sekali dari rumahnya selama berpuluh-puluh hari tanpa didampingi ayahnya, atau saudara laki-lakinya, atau lainnya (yang disebut mahram). Seorang ustadz berkata, “Kalau pergi untuk menuntut ilmu, tidak apa-apa”. Banyak teman lainnya mengatakan, “Yaa, mau gimana lagi ya. Keadaannya sekarang kan beda dengan zaman dulu (zaman Rasulullah)”. Ah, entah apa yang sebenarnya kucari, sebuah kebenarankah atau hanya pembenaran belaka. Toh, pada akhirnya aku tetap memutuskan untuk pulang dari perantauan.
Pikirku, orang yang bodoh ini, agamaku tak mungkin hanya mengatur orang yang hidup di zaman Rasulullah. Sekalipun sebuah peristiwa hanya terjadi di kala itu, apa salahnya jika mengambil pelajarannya. Pikirku lagi, aku tak pernah tahu mana amalan yang Allah terima atau apa dalam diriku yang membuat-Nya murka.
Yaa, aku takut jika aku menjalankan perintah-Nya, namun ternyata aku mengabaikan larangan-Nya. Hanya pikirku.
1 note &
Aku menyebutnya mimpi, mimpi kecil tepatnya. Yaa, hanya mimpi kecil. aku tidak bermimpi merubah Indonesia, apalagi merubah peradaban dunia. aku hanya bermimpi merubah diriku sendiri.
Hari ini aku membuat 22 mimpi kecil. Ah tidak, masih 15 mimpi kecil yang ku punya, belum sampai 22. mimpi itu melibatkan mamak bapak, si adik yang centil, aku sendiri, dan anak jempol (sandi, mei, emmy). Peran terbesar dalam mimpi ini tentunya Allah Yang Maha Pemurah dengan segala kekuasaan-Nya.
Mimpi kecil itu InsyaAllah menemaniku hingga satu tahun kedepan. Mimpi kecil yang akan menjadi nyata untukku, hanya atas seizin Allah. dan aku akan tetap berusaha melakukan yang terbaik, tak lupa menyertakan satu demi satu mimpi kecil itu dalam doa.
파이팅~~ Allah, 어머니 아버지, 이피 사랑해 :D
siscuy - 03122012
0 notes &
Arjuna - Siska (SMP Negeri 6 Denpasar, 2003)
0 notes &
Saat itu usiaku genap 9 tahun. Ini kali pertamanya bapak bertanya kado apa yang aku inginkan. Dengan cepat aku menjawab, “Aku mau apel merah, pak? Boleh?”
Yaa, bapak dan ibu membelikan sekilo apel merah yang renyah lagi manis rasanya. Hadiah yang bagiku luar biasa di hari yang spesial. Tapi, tak ada hadiah yang lebih luar biasa daripada lantunan doa kedua orang tua untuk anaknya di setiap sujud mereka.
0 notes &
karena ayah mengajarkan bahwa tak mungkin menjadi orang tua yang sempurna, tapi ada jutaan cara untuk menjadi orang tua yang baik

(Source: nayrouz, via achmadlutfi)